The Missing Picture : Boneka tanah liat, Celluloid dan Memorabilia Masa Kecil tentang Rezim Kekerasan

Oleh: Kania Mamonto

 

 

Judul : The Missing Picture
Tahun Rilis : 2013
Sutradara: Rithy Panh
Durasi : 92 menit

 

 

“In the middle of life, childhood returns sweet and bitter” – The Missing Picture

Seperti yang dikatakan Haruki Murakami di novel Norwegian wood “Memory is a funny things”, Sepenggal kalimat itu membawa saya kembali mengingat kenangan pada masa kecil. Berada digendongan ayah, bermain bersama teman, atu berlari mengejar ibu saya. Atau mengenang pertama kali mencoba menggenjot sepeda, dan rasa takut pertama kali bermain air di kolam renang. Mengingat kembali sakitnya saat jatuh pertama kali ketika bermain sepeda, pertama kali masuk ke sekolah atau jatuh cinta. Sejatinya, setiap manusia secara tidak sadar dibentuk berdasarkan olahan rasa dan memori masa kecil.

Tetapi tidak semua orang di dunia memiliki kenangan yang indah di masa kecilnya. Rithy Panh, penulis dan sutradara film dokumenter The Missing Pictures, menceritakan kisah masa kecil akan kenangan horor dan memilukan yang terjadi di negaranya. Usianya baru 13 tahun, saat Khamer Merah menjadi rezim penguasa di Kamboja pada tahun 1970an. Seluruh keluarga dan jutaan orang lainnya, mengalami penyiksaan, kelaparan, dan berbagai macam penyakit yang mengakibatkan kematian. Di usianya yang masih belia, ia terpaksa menyaksikan tindakan sewenang dari rezim yang mengatut paham komunisme dan asupan kekuatan militer.

Salah satu adegan dalam film The Missing Picture

“I see my childhood like lost pictures.”
Berikut adalah ungkapan Panh yang narator sepanjang film. Narasi yang sangat puitis menambah kesan kejujuran atas perasannya pada saat kejadian memilukan tersebut. Ia mencoba mencari dan menyusun kembali memori kelam masa kecilnya dengan memperlihatkan kenangan yang memilukan dengan melakukan reka ulang kejadian yang terjadi pada masa kejayaan Pol Pot. Reka ulang tersebut dilakukan dengan menggunakan diorama boneka dari tanah liat yang dipadu dengan potongan film celluloid untuk menambah alur tempat yang sesuai pada masa kejayaan Pol Pot. Meski tidak tersiar jelas adegan pembunuhan atau penyiksaan, dengan barisan boneka dengan latar belakang film tersebut berhasil menambah rasa pilu penonton. Hal inilah yang membedakan film Panh dengan dokumenter lain.

Seperti misalnya film Act of killing karya Joshua Oppenheimer, yang mengisahkan ratusan ribu jiwa bahkan jutaan orang Indonesia yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi korban pembantaian. Film dokumenter tersebut memperlihatkan jelas tentang kengerian, dan bahkan mempertontonkan reka ulang penyiksaan yang pernah dilakukan di Indonesia pada 50 tahun silam. Mereka disiksa, dibunuh, diwajibkan melapor pada Komando Distrik Militer (Kodim) masing-masing daerah. Tidak jarang juga mereka dipaksa bekerja tanpa diberi upah. Atas nama negara dan kekuasaan, bentuk kekerasan menjadi legal. Film Act of Killing mencoba menggiring penonton untuk mempertanyakan kembali budaya banal yang diciptakan atas peristiwa 1965 yang dibanggakan pelaku kekerasan.

The Missing Pictures memperlihatkan pada penonton sebagian sejarah Kamboja yang dipimpin tirani mayoritas yang sikap pemerintahnya sangat jauh dari sisi kemanusiaan. Penguasa mewajibkan rakyat untuk menanggalkan semua harta mereka. Bahkan untuk sandang, penguasa memiliki andil untuk mengatur baju apa yang harus rakyat kenakan. Dan warna hitam adalah pilihan penguasa, baju serba hitam dan kain bercorak kotak warna merah simbol kekuasaan Khmer Merah adalah baju wajib warga negara.

Panh mengingat jelas, kenangan lingkungan hidupnya yang penuh warna menjadi serba hitam. Terutama realitas yang paling dekat dengan dirinya : anak-anak tidak boleh bersekolah. Hal tersebut tidak lain ditujukan untuk membatasi peredaran ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh negara. Sehingga mereka membatasi pengetahuan dengan cara tradisional, termasuk pula dalam hal pengobatan medis. Ia juga menceritakan kisah para borjuis, agamawan, guru, dokter dan semua masyarakat dipaksa untuk bekerja di ladang. Mereka dipaksa meninggalkan pekerjaan, keluarga dan penguasa. Bahkan mengubah nama mereka menjadi individu baru dan dipaksa hidup secara komunal.

Keseragaman itu tetap dipertahankan, perlawanan dari masyarakat akan ditindaklanjut negara. Barang siapa mencoba ambil sikap bersebrangan maka akan mendapatkan tindak penyiksaan. Bahkan tidak banyak penyiksaan yang berujung kematian dan tidak akan mendapatkan pemakanan layak. Artikulasi yang digunakan rezim dalam mengolah suara rakyat adalah dengan membangun pusat penyiksaan. Akibatnya jutaan orang meninggal dan menderita fisik dan mental.

Sejarah pilu tersebut kenyataannya belum diakui oleh negara. Segala bentuk kekerasan yang dialami oleh sebagian rakyat tidak sepenuhnya diakui negara. Padahal kenangan itu tumbuh dan mengenang dalam pribadi Panh dan jutaan warga lainnya. Tidak pernah ada yang menjamin, bahwa negara kelak tidak akan melakukan kekerasan kembali pada warga negaranya. Sehingga sejarah harus kembali diluruskan, bahwa ada jutaan orang dibantai, disiksa, dan dirampas kepribadiannya. Bahwa jutaan anak akan kehilangan memori masa kecil dan tumbuh dengan pribadi yang mengenang gerakan kekejaman.

Untuk menjamin hal tersebut tidak terulang, pendokumentasian kejadian memilukan tersebut pun sungguh penting dilakukan agar semua generasi mengetahui potongan sejarah tragedi kemanusiaan di kamboja yang terjadi 40 tahun silam. Dalam rangka memutus ide tentang banalitas di masyarakat yang membudaya puluhan tahun, maka sejarah dan gambar tersebut harus dirawat kembali.

Demikian pula dalam konteks Indonesia, perdebatan mengenai malapetaka 1965 itu selalu ramai dibicarakan pada bulan-bulan September. Tapi perdebatan tersebut tidak pernah mengarah pada permasalahan ini adalah sebagai permasalahan bangsa. Persepsi masyarakat yang selama ini berpikir saya-bukan-korban atau saya-bukan-keluarga-komunis harus mampu membaca sejarah. Karena tidak ada jaminan jikalau kemudian hari, peristiwa berdarah bak film Hollywood itu akan terjadi kembali dan dapat menimpa siapa saja. Oleh sebab itu sejarah harus diluruskan. Hal tersebut terlepas dari ideologi yang dianut oleh dewasa ini. Tetapi sebagai entitas manusia, maka perlu dibangun sikap-sikap kemanusiaan. Tak peduli apa ideologi yang dianut oleh penguasa dan masyarakat, pemaksaan, pembunuhan dan perlakuan sewenang-wenang adalah tindakan melanggar Hak Asasi Manusia. Genosida yang terjadi pada masa rezim Khamer merah itu menjadi memori yang tidak bisa dilupakan oleh semua orang di Kamboja dan tentunya Rihty Panh kecil.

Kembali pada ungkapan Murakami : memory is a funny thing.

Tetapi menjadi tidak mungkin, ketika memori itu merekam pembunuhan massal dan tanpa proses keadilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *