People Can Change

Mengenakan setelan khas kaos oblong dan celana pendek, dengan lincah Myuran menorehkan cat di atas kanvasnya. Tak berapa lama kemudian, sebentuk guratan wajah Jokowi dengan bibir tertekuk ke bawah, rampung ia gambar. Lukisan yang ia garap pada 23 Januari 2015 itu ia bubuhi pesan “People Can Change” (Manusia Bisa berubah). Usut punya usut, lukisan tersebut tercipta lantaran Jokowi menolak permohonan grasinya, lewat Keputusan Presiden (Keppres) 32/G Tahun 2014.

Dalam “People Can Change”, tersirat makna supaya Jokowi mau mengampuni dan menghadiahi kesempatan kedua untuknya. “Aku memang bersalah dan aku tahu akan dihukum. Tapi menurutku, hukuman mati terlalu berlebihan. Aku berharap mendapat kesempatan kedua,” ungkap Myuran dalam video dokumenter, yang dibuat Karen Gall tahun lalu.

Perubahan itu bukanlah pepesan kosong semata. Selama mendekam dalam hotel prodeo Kerobokan, Bali, ia telah membuktikannya. Sehari-hari pria Australia itu banyak melukis portrait orang. Lukisan tersebut ada beberapa yang dipamerkan dan dijual kepada para kolektor. Catatan terakhir menyebutkan, hasil pameran Myuran mampu mendulang uang senilai US$ 4.500 dan digunakan untuk mengembangkan program rehabilitasi, sekaligus mendukung kelas melukis yang telah ia rintis di penjara.

Selain membuka kelas melukis, Myuran juga mengajar filsafat dan bahasa Inggris. Berkat usahanya, banyak narapidana yang kemudian sadar dan mau menggeluti pekerjaan baru. Mathius Arif Mirdjaja, kawannya sesama narapidana menyebutkan, gara-gara Myuran, mantan maling selepas keluar penjara, bisa menjadi pelukis kaya raya.

Perubahan itu tak hanya ditunjukkan Myuran saja. Otak komplotan Bali Nine, Andrew Chan, juga ikut membawa perubahan positif bagi orang-orang di sekitarnya. Di bui, Andrew banyak membantu narapidana lain dengan sejumlah program, seperti pelatihan paramedis dan memasak. Ia juga aktif di gereja. Berkat dialog dengan Andrew Chan pula, Arif yang mulanya atheis kini menjadi pendeta.

Lagi-lagi, pesan “People Can Change” yang digaungkan Myuran juga berlaku pada narapidana lain yang dieksekusi mati, baik pada gelombang satu maupun dua. Ang Kim Soey, terpidana mati warga Belanda bisa membuktikan perubahan diri dengan menyembuhkan orang, lewat pengobatan herbal yang ia kembangkan. Rani Andriani, terpidana mati asal Cianjur juga menggunakan kecakapannya untuk mengajari anak-anak membaca, serta melatih ibu-ibu kesenian marawis dan membuat rambak beduk. Okwudily Oyatanze dan Raheem Agbaje jadi semakin giat pergi ke gereja. Bahkan hari-hari Raheem juga diisi dengan mengajar bahasa Inggris untuk narapidana di lapas Madiun, tempat ia ditahan.

Pelbagai perubahan tersebut semestinya dijadikan pertimbangan Pemerintah dalam menyikapi persoalan hukuman mati. Apalagi, dalam pasal 2 UU No 12/1995 tentang Pemasyarakatan disebutkan, sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.

Pasal tersebut menegaskan, tiap warga binaan, termasuk terpidana mati bisa memperoleh kesempatan untuk bertobat dan menjadi manusia yang lebih baik lagi, tanpa mengurangi esensi kemanusiaannya. Kalau sudah dijamin dalam regulasi, maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan Pemerintah adalah mengaji ulang perihal hukuman mati. Pertama, dari sisi efektifitas hukuman mati itu sendiri. Kedua, dalam pelaksanaan hukuman mati, terbuka peluang kesalahan hukum. Hal yang ketiga, terkait dengan aspek kemanusiaan, terutama hukuman mati merupakan bentuk penghukuman kejam dan tidak manusiawi. Bahwasanya setiap orang punya hak asasi berupa hak untuk hidup yang tak bisa dicabut begitu saja. Dalam konteks ini, jika terbukti seorang terpidana sudah menjalani hukuman selama bertahun-tahun, telah bertobat dan menyesali perbuatannya, bahkan selalu berbuat baik selama menjalani masa tahanan, maka itu perlu menjadi bahan pertimbangan. “People Can Change,” kata Myuran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *