Penggusuran dan Mesin Pertumbuhan Kota

Aliansi ‘Mesin Pertumbuhan’ Kota

Dalam studi ekonomi politik perkotaan, dikenal sebuah pendekatan untuk melihat perkembangan kota dari sudut pandang pertumbuhan, yang sering disebut sebagai mesin pertumbuhan atau growth machine. Menurut pendekatan ini, pembangunan kota kapitalis selalu digerakkan mesin-mesin pertumbuhan yang terbentuk dari aliansi kekuatan bisnis. Pendekatan ini dikenalkan oleh Logan dan Molotch, yang memiliki tesis bahwa aktivisme bisnis selalu menjadi kekuatan pendorong dari terbentuk dan tumbuhnya kota.[4] Kekuatan bisnis di sini secara spesifik berupa ‘rentiers’ atau kelompok pengembang yang mendapatkan untung dari proses pembangunan atau investasi. Sementara kata ‘pertumbuhan’ di sini kadang tidak selalu merujuk pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dalam sebuah kota, melainkan lebih mengarah pada perkembangan properti dan fisik. Dengan begitu, perkembangan kota dilihat sebagai hasil dorongan dari aktivitas bisnis yang dikerjakan oleh para rentiers itu.

Kekuatan bisnis yang menjadi mesin pertumbuhan ini tidak bekerja secara sendirian. Mereka biasanya membentuk sebuah aliansi yang terdiri dari kelompok bisnis (rentiers), pemerintah dan kelompok masyarakat yang diuntungkan. Pemerintah terlibat dalam aliansi mesin pertumbuhan karena mereka yang paling concer membutuhkan pertumbuhan untuk kotanya. Legitimasi pertumbuhan itu dibutuhkan karena berhubungan dengan pendapatan daerah dan dukungan politik. Menurut Alan Harding, diantara rentiers sendiri, terdapat tiga bentuk aliansi yang sering terjadi, diantaranya terdiri dari, pertama, kelompok developer, financier, atau mereka yang langsung mendapat untung dari proses pembangunan; kedua, kelompok yang mendapatkan untung secara tidak langsung, biasanya dari peningkatan penggunaan jasa dan produknya karena pembangunan, misalnya media lokal atau suplier material pembangunan; dan ketiga, kelompok-kelompok kepentingan di dalam masyarakat yang mendapatkan keuntungan dari proses pertumbuhan kota.[5] Oleh karenanya, kelit kelindan mengenai pembangunan kota selalu berbentuk jejaring kepentingan yang saling menguntungkan diantara mereka. Aktivitas aliansi yang menjadi struktur mesin pertumbuhan kota ini yang mengakibatkan pembangunan dan perebutan ruang di kota seringkali tidak ditentukan oleh perencanaan ruang secara matang, melainkan hasil dari dorongan dan pertarungan diantara mereka.

Apa yang terjadi di Jakarta saat ini, seperti mengonfirmasi argumen diatas. Pertumbuhan kota di Jakarta bisa dibaca dengan kerangka mesin pertumbuhan itu. Hal tersebut bisa dilihat dari perkembangan properti dan infrastruktur. Dalam beberapa tahun ini, Jakarta menjadi salah satu kota yang memiliki pertumbuhan properti paling tinggi di dunia.[6] Antara 2013 dan 2014, pertumbuhan properti ini mencapai 20-30 persen per tahun. Meskipun pada 2015 diperkirakan akan turun, tapi angka pertumbuhan properti di Jakarta masih di kisaran angka 10-15 persen per tahun.[7] Menurut data Bank Indonesia (BI), dalam tahun ini saja, masih akan ada tambahan pasokan dari beberapa ritel, misalnya Lippo Mall Puri, Mall Pantai Indah Kapuk, One Bell Park, dan Central Park Extension. Selain itu juga akan ada tambahan pasokan apartemen sewa, seperti TBS Linera Apartmen Service, Fraser Place Setia Budi Sky Garden, Pejaten Park Residen, dan Fraser Suite Ciputra World.[8]

Menurut perkiraan BI juga, ke depan perkembangan pasokan apartemen di Jabodetabek diperkirakan akan terus meningkat sampai 2018, terkait dengan banyaknya apartemen yang memasarkan tower lanjutan. Sementara, pasokan lahan industri diperkirakan tidak bertambah, melainkan bergeser ke wilayah periferi seperti Bodebek dan Banten.[9] Tingkat hunian properti komersial sewa di Jabodetabek pada triwulan II 2015 saja masih terus tumbuh dibanding quarter sebelumnya. Misalnya, tingkat hunian ritel meningkat 96,90 persen menjadi 97,34 persen, apartemen sewa 81,33 persen menjadi 88,11 persen, convention hall 68,22 persen menjadi 79,88 persen, maupun okupansi hotel berbintang yang meningkat 54,04 persen menjadi 55,99 persen.[10] Sementara itu, peningkatan penjualan properti komersial pada triwulan II 2015 secara umum masih menunjukkan pertumbuhan meskipun pasokan properti sedang stagnan.[11] Dengan demikian, secara umum bisa dilihat bahwa bisnis properti di Jakarta selalu tumbuh tiap tahunnya.

Selain potret pertumbuhan properti yang tinggi, kota Jakarta juga menunjukkan pembangunan yang kadang tidak sesuai dengan rencana yang sudah ada. Misalnya, wilayah untuk tangkapan air dan hutan kota yang kemudian dikonversi peruntukannya karena dimiliki oleh konglomerasi dan korporasi, justru dibiarkan begitu saja oleh Pemda Jakarta. Sebagai contoh, daerah resapan air Kelapa Gading yang dikonversi menjadi Mall Kelapa Gading dan Kelapa Gading Square; Pantai Indah Kapuk yang sebelumnya merupakan kawasan hutan lindung menjadi pemukiman elit Pantai Indah Kapuk, Mutiara Indah, dan Damai Indah Padang golf; kawasan Sunter yang merupakan area resapan air menjadi pemukiman elit Sunter Agung, PT Astra Komponen, Astra Daihatsu, PT Denso Indonesia, dan PT Dunia Express Trasindo; Hutan Kota Senayan menjadi Hotel Mulia, Sultan Hotel, SPBU Semanggi, Senayan Residence Apartment, Hotel Century Atlet, Simprug Golf, dan Plaza Senayan; serta Hutan Kota Tomang menjadi Mall Taman Anggrek dan Mediteranian Garden Residence I dan II.

Pertumbuhan kota seperti di atas dapat menunjukkan karakter aliansi kekuasaan yang terbentuk melalui mesin pertumbuhan. Fakta-fakta di atas dapat menunjukkan bahwa kota, seperti Jakarta, tumbuh melalui dukungan kapitalis developer yang difasilitasi oleh pemerintah kota. Dengan begitu, sebenarnya kita bisa melihat bahwa Ahok saat ini berdiri di atas topangan atau basis politik yang didukung oleh kapitalis developer dalam membangun kotanya. Aliansi kekuasaan yang terbentuk di antara mesin pertumbuhan ini bukanlah karena kesepakatan tanpa materai. Harding menyebutkan bahwa aliansi itu terbentuk karena adanya adanya “tangible benefits” yang ingin diperoleh.[12] Sumber daya material yang riil ini yang kemudian mengikat mereka untuk bekerja secara bersama-sama.

___________

4. J. Logan and H. Molotch, Urban Fortune: The Political Economy of Place, Berkeley: University of California Press, 1987, p. 52
5. Alan Harding, “Elite Theory and Growth Machine” in David Judge, Gerry Stoker, and Harold Wolman, Theories of Urban Politics, London: Sage Publication
6. “Jakarta Jadi Kota dengan Perkembangan Investasi Properti Tertinggi”, diunduh dari http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/14/11/11/nevd38-jakarta-jadi-kota-dengan-perkembangan-investasi-properti-tertinggi diakses pada 03 September 2015 pukul 22.00 WIB
7. “Tahun Depan Pertumbuhan Properti Mencapai 10-15 Persen”, diunduh dari http://properti.kompas.com/read/2014/11/29/133827421/Tahun.Depan.Pertumbuhan.Properti.Mencapai.10.-.15.Persen diakses 04 September 2015 pukul 01.38 WIB.
8. Bank Indonesia, “Laporan Perkembangan Properti Komersial Triwulan II 2015”, dapat diunduh di http://www.bi.go.id/id/publikasi/survei/properti-komersial/Documents/Laporan_PPKom_Q2_2015.pdf, hlm.2
9. Ibid. hlm. 4
10. Ibid. hlm. 2
11. Ibid. hlm. 4
12. Alan Harding, op.cit. p. 42

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *