Leviathan yang mencekik perlahan

0
446
Poster Film Leviathan (sumber imdb.com)

Oleh Mirza Fahmi*

Pada separuh jalan Leviathan, film megah sekaligus mencekam dari Andrey Zvyagintsev, sang protagonis, Kolya (Aleksei Serebryakov) dan kawan-kawannya tengah melancong dan menyantap barbecue. Sambil menggigil kedinginan, mereka menenggak bergelas-gelas vodka. Di momen rileks yang langka dalam film berdurasi 141 menit ini, Kolya cs bersiap melakukan ritual wajib acap kali berpelesir: latihan menembak. Seseorang mengeluarkan foto-foto para pemimpin Rusia – dari Lenin sampai Gorbachev – sebagai sasaran tembak. “Mengapa tidak ada yang lebih terkini?” tukas Kolya mempertanyakan absennya Vladimir Putin dalam jajaran foto yang siap diberondong peluru. “Ah, masih terlalu dini. Biarkan dia matang dahulu di dinding-dinding” jawab seorang kawannya.

Kita mungkin bertanya: apakah Zvyagintsev sungkan untuk “menembak” Putin? Rasanya justru sebaliknya. Walaupun absen dalam ritual diatas, wajah dingin Putin sedari mula telah hadir menghiasi “dinding-dinding” di Leviathan. Seperti di dinding ruangan sang Walikota yang brutal (Roman Madyanov). Sorot matanya senantiasa diam mengawasi dari balik pigura kaca, merestui semua kelaliman yang berdiam di dalamnya. Kehadiran simboliknya adalah pusat dari kritik tajam Zvyagintsev atas kondisi Rusia hari ini – kondisi masyarakat dalam cengkraman oligarki.

Secara sederhana, Leviathan adalah kisah kemalangan Kolya, pemilik rumah dan bengkel mobil di Pribrezhny, kota kecil dan muram di pesisir pantai utara Rusia yang berbatasan dengan Samudera Arktik. Tanah miliknya turun temurun diincar oleh Walikota Vadim yang bersikeras hendak membangun menara telekomunikasi di atas lahan tersebut. Lewat sengketa di pengadilan, Vadim sukses mendapatkan tanah Kolya dengan uang kompensasi yang tidak seberapa. Setelah upaya banding menemui jalan buntu, Kolya dan Dimitri (Vladimir Vdovichenkov), pengacara dari Moskow, menyusun perlawanan penghabisan atas perampasan ini.

Sepintas memang tak ada yang baru. Hampir tak terhitung banyaknya kisah bertemakan perjuangan underdog menentang kesewenangan yang sudah diangkat ke layar lebar. Akan tetapi, sasaran Zvyagintsev jelas bukan happy ending. Tidak ada klimaks yang ditandai dengan pidato inspirasional dan parade patriotisme seperti halnya “Mr. Smith Goes to Washington” atau “The Great Dictator”- saat si korup akhirnya terbukti bersalah, mendapatkan ganjarannya, dan penonton dapat pulang dengan dada membuncah oleh harapan.

Pada sebuah ulasan di New York Times, Zvyagintsev mengungkapkan bahwa Leviathan sedikit banyak diangkat dari kisah nyata Marvin Heemeyer, seorang pemilik bengkel di Colorado, AS yang lahannya digusur untuk dijadikan pabrik semen. Tidak terima dengan penggusuran ini, Heemeyer nekat membawa buldozer, menabrakannya ke Balai Kota, lantas bunuh diri dengan sepucuk pistol. Namun setiap tragedi selalu melahirkan kesaksian. Dan dalam Leviathan, alih-alih heroisme, kita diminta untuk menyaksikan bagaimana kekuasaan mencekik perlahan-lahan.

Kolya jelas bukan sosok jagoan idealis tempat kita bisa sepenuhnya menghaturkan simpati. Ia seorang pemabuk paruh baya temperamental yang ringan tangan. Sempoyongan hingga larut malam, Kolya bisa terbahak-bahak, lalu mendadak mencaci maki semua orang yang ada di hadapannya. Bahasa yang paling ia pahami adalah bahasa kekerasan, baik fisik maupun verbal. Tak terkecuali untuk istri dan anaknya. Ia memiliki beberapa kawan dekat. Namun mereka pun kerap memandang Kolya dengan rasa iba sekaligus ngeri.

Harapan terakhir Kolya jatuh pada Dimitri, yang dengan berbekal koneksi dengan elit politik di Moskow, berusaha mengancam Vadim untuk membatalkan proyek pembangunan, atau setidaknya memberikan uang kompensasi yang layak bagi Kolya. Vadim yang terusik oleh pembangkangan ini segera mengerahkan semua jejaring kekuasaan yang ia miliki untuk membalas “kelancangan” Kolya dan Dimitri.

Lewat Vadim kita bisa melihat betapa Pribrezhny sesungguhnya adalah miniatur oligarki Rusia. Seperti halnya Putin, Vadim, dalam lingkup kota kecil di pelosok, telah berhasil mengkonsolidasikan ragam elemen kekuasaan – kepolisian, pengadilan, tokoh masyarakat – ke dalam kendalinya. Sebagai oligark yang ingin mempertahankan konsentrasi kekayaan dan kekuatan, ia hendak memastikan dirinya terpilih kembali dalam pemilihan Walikota berikutnya. Untuk ini, ia bersekutu dengan Uskup Gereja Ortodoks setempat. Lagi-lagi dapat kita lihat kemiripan manuvernya dengan Putin yang merangkul Patriarch Kirill, pimpinan tertinggi Gereja Ortodoks Rusia. Persekutuan inilah antara lain yang membuat Putin percaya diri untuk melancarkan ekspansi ke wilayah Krimea, dan mendukungnya dalam membungkam suara-suara sumbang di dalam negeri: dari Pussy Riot, NGO yang kritis, sampai gerakan LGBT.

Akibat persekongkolan ini, tidak heran kemudian apabila Zvyagintsev menyorot peran agama dalam lanskap politik dengan tatapan muak. Seperti saat Vadim dan Sang Uskup mengatur rencana sambil menyantap hidangan di restoran mewah, sementara di latar belakang terlihat mencolok sebuah lukisan Perjamuan Terakhir. Sang Uskup mengutip rangkaian ayat suci, namun di saat yang sama meminta Vadim membereskan masalah Kolya dengan segera, kalau perlu dengan kekerasan. Puncak dari persekutuan mereka dapat kita lihat di adegan akhir film, dimana kekuasaan dipertontonkan dalam wujudnya yang paling mengerikan.

Meski demikian, agama tak sepenuhnya cemar di mata Zvyagintsev. Karya-karya terdahulu sutradara ini malahan memiliki ketertarikan akan kisah-kisah Injil (The Return, misalnya), untuk memberikan nuansa dan membantu menerjemahkan konflik yang dialami para karakternya. Demikian pula halnya dengan Leviathan. Saat seluruh upayanya mempertahankan tanah, nama baik, dan keutuhan keluarganya dirasa menemui jalan buntu, Kolya menemui seorang pendeta. “Dimanakah Tuhanmu yang maha kasih itu?” gugatnya. Pendeta dengan raut muka yang lelah itu, Vasily, tak memberikan penghiburan. Dengan lembut ia berkisah tentang Leviathan, sosok monster kejam yang berdiam di lautan, seperti berusaha memberi ilustrasi atas kemustahilan perjuangan Kolya.

Leviathan bisa jadi adalah kekuasaan itu sendiri. Thomas Hobbes, dalam buku termahsyur yang berjudul sama, mengangkat realitas hidup manusia yang “sendirian, kejam, dan teramat singkat”. Demi memperebutkan sumber penghidupan yang kian langka, kodratnya adalah untuk menjalani perang tak berkesudahan melawan sesamanya. Leviathan, bagi Hobbes, adalah jawaban keluar dari nasib ini. Satu-satunya cara menghindari perang semua-lawan-semua adalah apabila muncul otoritas tunggal yang sanggup berdiri di atas setiap silang-sengketa. Monster yang absolut dan berdaulat sepenuhnya.

Konflik dan laku Hobbesian dapat kita saksikan sepanjang peradaban manusia. Dari kekacauan itu muncul para Leviathan yang mengaku sanggup membereskan semuanya. Ia menjanjikan kepastian dan keteraturan. Namun, masihkah kita sepakat dengan Hobbes apabila kemudian Leviathan yang ia gadang-gadang sebagai juru selamat justru berbalik memangsa kita? Ketika hak kita untuk hidup tentram dan merdeka dapat sewaktu-waktu dicabut olehnya?

Perampasan tidak mesti terjadi dalam gaduh. Dalam Leviathan, orang-orang Pribrezhny tetap menjalani hidupnya seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa pada Kolya. Tidak ada demonstrasi di jalan-jalan, kritik di surat kabar, atau bahkan sekedar ucapan solidaritas. Bagi mereka tidak ada yang salah saat Kolya diperintahkan untuk angkat kaki dari tanahnya sendiri. Mereka cukup puas mengetahui bahwa Vadim menang lewat keputusan pengadilan yang sah, bukan melalui todongan bedil atau pengusiran paksa. Sebab itulah bagi mereka pembangkangan Kolya bukan cuma sia-sia, tapi juga hingar-bingar yang tidak perlu. “Sudahlah” demikian bunyi tatapan mereka, “mulailah menatap masa depan”. Kita tahu persis bahwa hal serupa sering terjadi di depan batang hidung kita sendiri.

Hingga akhirnya Kolya kalah. Dimitri tak berdaya menghadapi teror psikis Vadim dan preman-premannya. Ia memutuskan pulang ke Moskow selepas satu pertengkaran dengan Kolya. Lilya, istri Kolya yang hampir tidak pernah dilibatkan dalam pertempurannya melawan Walikota, ditemukan tak bernyawa. Hal terakhir yang kita saksikan pada wajah Kolya adalah keruntuhan segenap semangatnya.

Sebelum berpisah jalan dengan Kolya, Vasily bercerita tentang Ayub, Nabi yang bertubi-tubi dirundung kemalangan. Tuhan mempersilakan iblis untuk merampas harta, keluarga, dan kesehatannya sekaligus. Tak henti-hentinya Ayub bertanya, “Mengapa hanya aku yang kau berikan cobaan ini?”. Leviathan pada akhirnya berusaha menjelaskan bahwa Pribrezhny bukan satu-satunya. Bukan hanya Vadim dan Putin. Bukan hanya Rusia. Bukan hanya Ayub. Bukan hanya Kolya.

Langit Pribrezhny senantiasa dijauhi matahari. Di sepanjang pesisir pantai dapat ditemui bangkai-bangkai kapal dan kerangka paus yang terdampar. Para pemuda menghangatkan diri di api unggun dalam puing-puing sebuah gereja tua. Film ditutup dengan khotbah Uskup yang dihadiri Vadim, warga Pribrezhny, dan tokoh-tokoh elit lain. Vasily pun hadir. Tapi tidak ada Kolya. Ia telah sepenuhnya dilumat oleh sang Leviathan.


* anggota redaksi Sorge Magazine dan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik UI