Pembaca yang terhormat,

Dalam hitungan bulan, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan segera direalisasikan. Meski begitu,banyak pekerjaan yang belum paripurna ditunaikan. Belum lagi ancaman pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dalam praktiknya, bahkan sudah banyak menimpa kaum akar rumput, baik petani, nelayan, pedagang, dan buruh. Sementara itu komitmen negara untuk mengatasi ketimpangan ekonomi lewat mekanisme MEA pun menjadi anomali. Pasalnya, MEA ternyata hanya digunakan sebagai ladang emas bagi para pemodal besar, alih-alih menyejahterakan rakyatnya.

ASASI kali ini mendedah tema Masyarakat Ekonomi ASEAN, kesiapan, serta potensi pelanggaran HAM sebagai ekses yang tak terelakkan. Selain mengetengahkan laporan jurnalistik, buletin ini juga dilengkapi dengan artikel opini dari dua penulis: Zely Ariane yang menulis soal MEA dalam perspektif gender dan Dicky Dwi A. yang menulis tentang proses land grabbing di perkotaan. Simak pula tulisan resensi film “Maquilapolis” yang renyah dari Azhar Irfansyah, pegiat suara buruh Sedane.

Akhir kata, selamat membaca.
Redaksi ASASI