Pembaca yang budiman,

Meski suara sumbang terus dilontarkan pelbagai elemen masyarakat, termasuk para pegiat HAM, hukuman mati jilid ketiga akan tetap ditunaikan. Saat ini pihak Kejaksaan Agung tengah menyiapkan sederet nama yang akan didor pada gelombang berikutnya. Sementara itu, tuntutan untuk mengevaluasi skema hukuman mati tak juga dipenuhi.

Padahal pada tiap eksekusi mati, selalu ada ekses yang muncul. Cerita yang menyayat hati dari janda terpidana mati yang mesti jadi kepala keluarga; duka para yatim anak terpidana mati yang kerap dijadikan bahan cemooh teman sekolahnya; hingga kisah pertobatan terpidana mati yang tak dipedulikan negara. Semua cerita itu coba ASASI rangkum dalam edisi Mei-Juni ini.

Jika pada edisi sebelumnya, ASASI mengetengahkan argumentasi legal konstitusional mengapa hukuman mati tak lagi relevan. Pada edisi ini, ASASI mengajak pembaca melihat hukuman mati dari aspek humanitas. Hal itu tampak dari dua laporan utama yang sama-sama menyuguhkan cerita humanis dari orang-orang yang terlibat pada praktik eksekusi mati. Selain dua tulisan itu, simak pula curahan hati Christina Windiatarti kala menjadi anggota tim kuasa hukum Rodrigo Gularte. Selain itu, ada tulisan yang menarik dari Lintang Setianti mengenai film tentang hukuman mati di luar negeri.

Akhir kata, selamat membaca.
Redaksi ASASI