Judul : Daun di Atas Bantal
Sutradara : Garin Nugroho
Tahun rilis : 1998
Durasi : 77 menit

 

 

Alunan saxophone yang begitu lirih menghantui gang-gang sempit yang basah. Kita tidak disuguhkan gambar yang manis pada opening film. Tanpa basa-basi kita langsung disodorkan kesan kelam yang sangat intim. Film Daun di Atas Bantal berawal dari sebuah project film dokumenter yang dibuat oleh Garin Nugroho dengan judul Dongeng Kancil untuk Kemerdekan. Sebuah dokumenter yang bercerita tentang kehidupan empat anak jalanan di Jogjakarta, yaitu Kancil, Topo, Sugeng dan Hatta disekitaran jalan Malioboro. Kehidupan anak jalanan ini kemudian membawa Garin Nugroho untuk membuat versi fiksinya. Bersama penulis skenarionya Armantono, mereka akhirnya berhasil membuat sebuah skenario film fiksi yang menampilkan realitas kehidupan anak jalanan di kota Jogjakarta. Film berdurasi 77 menit ini dibalut dengan sentuhan dokumenter yang terlihat apa adanya. Daun di Atas Bantal bercerita tentang kehidupan Kancil, Heru dan Sugeng, tiga anak jalanan yang hidup di Yogyakarta tahun 1997. Sehari-hari, mereka tinggal bersama Asih (Christine Hakim) yang bekerja menjual kembang dan batik untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Asih seperti Ibu asuh bagi ketiga anak tersebut. Asih juga harus berhadapan dengan kemiskinan yang setiap hari menjerat lehernya. Kancil, Heru, Sugeng, mereka bertiga harus menjalani kerasnya kehidupan jalanan yang akrab dengan rasa lapar dan kriminalitas tinggi. Sebagai anak terlantar dan fakir miskin harusnya mereka dipelihara oleh negara. Menjadi hak anak-anak jalanan itu untuk bisa sekolah. Dan film ini begitu jujur menampilkan situasi yang terjadi sebenarnya dimana negara justru menelantarkan mereka, khususnya anak jalanan. Namun meski begitu mereka tetap memiliki mimpi bahwa suatu saat nanti bisa keluar dari jerat kemiskinan. Bantal menjadi metafora dari tempat bermimpi dan mereka bagaikan daun yang kapan saja bisa diterpa angin.

Seperti film-film Neo-realisme Italy, semua pemainnya bukan berasal dari aktor profesional yang mahir berakting. Salah satu contohnya Bicycle Thieves yang disutradarai oleh Vittoria De Sica. Karakter Kancil, Heru dan Sugeng dalam film ini adalah anak jalanan asli yang memerankan peran mereka sendiri. Cerita yang berlatar belakang kehidupan mereka sehari-hari membuat mereka mampu mendalami setiap adegan dalam film. Kemampuan acting mereka juga tidak kalah dengan pemain-pemain professional lain. Garin cukup berhasil mengarahkan ketiga anak tersebut dengan pembawaan yang natural dan jujur.

Alur cerita film ini linear, bergerak dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya dan bergerak maju. Sejak awal kita sudah disuguhi dengan realitas kemiskinan yang dialami karakter-karakternya. Namun film ini berfokus pada ketiga karakter anak jalanan yang menjadi pemeran utamanya. Pada scene awal film kita melihat kehidupan keluarga miskin biasa. Selayaknya anak-anak yang sering kali membuat geram orang tua. Mengambil peniti milik Asih untuk dijadikan anting. Tetapi begitu film memasuki scene pasar, kita bisa melihat persoalan anak jalanan dan kemiskinan yang lebih luas lagi. Kita bisa melihat anak-anak dibawah umur bekerja, merokok, nge-lem, mabuk, dipukuli, gadis SMA yang menjadi pelacur, seorang penjual nasi kucing dihutangi pembeli yang tidak bayar-bayar, dll. Kehidupan yang penuh drama tergambarkan dalam film ini. Sebagai penonton kita seperti mendapat tamparan kuat dari gambar-gambar tersebut. Jogjakarta terlihat sangat tidak ramah kepada manusia-manusia yang hidup di dalamnya, khususnya masyarakat miskin dan anak jalanan.

Namun kerasnya kehidupan, tidak membuat Asih, Kancil, Heru, dan Sugeng kehilangan sisi kemanusiaanya. Walaupun hubungan mereka tidak begitu baik tapi terlihat ada rasa saling membutuhkan dan melindungi satu sama lain. Heru yang selalu bertengkar dengan Asih, membelikan mainan jangkring untuk mengusir tikus karena tahu Asih takut dengan tikus. Sugeng yang memaki suami Asih karena tidak terima Ibu asuhnya dihina, hingga akhirnya ia menjadi sasaran pukul. Hal emosional juga muncul ketika Heru pulang dan makan dengan mulutnya seperti anjing. Asih menuduhnya mencuri ayam karena tangan Heru berlumuran darah. Mereka bertengkar hingga akhirnya Heru mengatakan bahwa itu adalah darah kancil. Kancil meninggal karena terbentur terowongan ketika berada di atap kereta karena lari dari Heru yang hendak mengambil bantalnya. Asih begitu terpukul mendengar kematian kancil. Sejak itu Heru tidak mencuci tangannya. Ada kesan penyesalan mendalam yang dirasakan Heru. Tidak lama setelah kejadian itu Heru menghilang dan kembali lagi dengan membawa uang dan memakai pakaian bagus. Heru hendak memberi uang kepada Asih tetapi ditolak. Beberapa hari kemudian terdengar kabar bahwa mayat Heru ditemukan tergeletak di pojokan tempat sampah. Heru menjadi korban penipuan berkedok asuransi. Sugeng pun akhirnya menyusul Kancil dan Heru. Sugeng mati ditusuk sekelompok orang yang mengira ia adalah orang yang mereka cari. Kematian yang tiba-tiba ini menjadi pukulan berat bagi Asih. Hidup mereka sebagai anak jalanan begitu kerasnya sampai nasib tragis berupa kematian bisa menjemput lewat cara yang sangat mengenaskan. Ditambah lagi mayat Sugeng tidak diterima untuk dimakamkan karena tidak memiliki identitas.
Melihat film ini sebagai persoalan-persoalan masyarakat yang kompleks, kita hanya melihat sekilas-sekilas saja. Karena begitu cepat permasalahan yang satu ke permasalahan yang lain. Terlihat saling tumpang tindih. Tetapi itulah yang terjadi di masyarakat. Persoalan yang terjadi saling terkait dan begitu banyak. Sebagai sutradara Garin sangat peka menangkap realitas sosial sekitarnya dan merekamnya menjadi bentuk visual yang dramatis. Penggunaan movement camera yang dinamis memberikan kesan hidup anak jalanan yang tidak pernah mulus dan tenang.

Film yang sempat diputar dalam seksi Un Certain Regard pada Cannes Film Festival tahun 1998 ini tidak hanya menjadi dokumentasi potret kehidupan anak jalanan, tapi juga memberikan kritik keras terhadap pemerintah daerah Jogjakarta atas luputnya tugas mereka dalam pemenuhan hak-hak dasar warganya. Dalam konteks global, model pembangunan di sebuah negara dengan segala peran penunjang seperti perekonomian, sosial dan budaya mempunyai konsekuensi untuk memberikan ruang dalam perlindungan hak asasi manusia. Melalui Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, desentralisasi sistem politik ini memungkinkan terjadinya pembagian beberapa kewenangan dan tanggung jawab pemerintah pusat ke pemerintah propinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Termasuk kaitannya dengan tanggung jawab atas perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia. Seharusnya Jogjakarta saat itu menjalankan tugasnya dalam memenuhi hak masyarakatnya. Mereka yang paling rentan dengan menyelewengan hak hidup sebagai manusia. Dalam film ini dikhususkan kepada anak-anak jalanan. Mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap, tidak bisa mengenyang pendidikan, juga rentan menjadi korban kekerasan bahkan tidak ada jaminan untuk keselamatan jiwa mereka. Sungguh ironis ketika kita tahu bahwa seharusnya peran pemerintah daerah mampu melindungi hak-hak tersebut.
Daun di Atas Bantal, sebuah gambaran kehidupan masyarakat termarjinalkan yang brutal dan jauh dari kemanusian. Meskipun setelah 16 tahun film ini dibuat, hari ini kondisi yang sama masih terjadi diberbagai wilayah Indonesia. Ini merupakan tamparan keras bagi pemerintah daerah yang saat ini mengusung kota ramah HAM. Bahwa masih banyak ketimpangan yang terjadi dikehidupan masyarakat. Hingga akhir film, tidak ada penyelesaian atau anti klimaks. Film berakhir dengan menampilkan kehidupan yang sama saja dan berjalan seperti biasanya.